
Sebuah permintaan pertemanan muncul di notifications facebookku malam ini disaat aku baru saja selesai mengirim sebuah email kepada seorang teman lama yang mengajak kerjasama. Oh God... sesorang dari masa lalu, yang pernah memberikan ruang dihatinya kepadaku. Kami memulainya sebagai teman, tapi ketika hubungan ini harus di akhiri ternyata tidak mudah baginya untuk tetap menjadi temanku. Kami tidak saling menghubungi. Dan akhirnya facebook mempertemukan kami. Setelah aku confirm, aku coba melihat info profilnya. Tidak ada keterangan apa-apa. Hanya jenis kelamin dan beberapa group yang dia ikuti. Pertemanannya pun belum banyak, mungkin dia baru saja bikin facebook.
Diantara rasa penasaranku tiba-tiba muncul sapaan darinya di chat box. Mulailah sebuah tanya jawab yang lebih terasa basa basi tapi aku menikmati nostalgia singkat ini. Dia menulis panjang lebar hampir tak ada kesempatan untukku membalasnya.
Tak pernah tepikirkan olehku bisa bertemu dia lagi meskipun hanya lewat dunia maya. bahkan terlintas di benakkupun tak pernah.
Inilah kehidupan. Kita tidak akan tau apa yang akan terjadi esok. Kadang banyak hal terjadi jauh dari yang kita harapkan. Begitu juga soal menjalin hubungan. Yang pasti setiap kita butuh seseorang untuk berbagi. untuk saling mengerti dan memahami. Untuk saling merasakan indahnya kebersamaan.
Teringat film Up In The Air (2009) ya
ng dibintangi George Clooney yang berperan sebagai Ryan Bingham seorang eksekutif lajang yang memiliki riwayat pekerjaan unik karena 322 hari dalam setahun menghabiskan hidupnya di udara alias terus bepergian dari satu tempat ke tempat lain.Pilihan hidupnya adalah tidak menikah, tidak punya pacar tetap, tidak punya komitmen apa pun dalam hidup. Di antara perburuan menuju target ribuan kilometer di udara, Ryan bertemu dengan seorang perempuan bernama Alex (Vera Fermiga) yang kemudian mengubah pemikirannya. Sesama eksekutif dengan jadwal terbang tinggi yang kemudian menjadi teman dekatnya tanpa status.
Pertemuan Ryan dengan Alex membuat dia menyadari bahwa ternyata rasa keterikatan bukan sesuatu yang bisa dihalangi. Di sinilah dia menyadari betapa pentingnya arti kehadiran seseorang. Ryan mulai merasakan indahnya kebersamaan dengan Alex, lalu dia memutuskan terbang ke Chicago menemui Alex untuk mengungkapkan perasaanya, ternyata dia baru tahu bahwa wanita yang telah menarik hatinya itu sudah berkeluarga.
Ryan semakin terpukul setelah percakan di telpon dengan Alex.
“ I thought I was a part of your life” kataRyan.
“I thought we signed up for the same thing... I thought our relationship was perfectly clear. You are an escape. You're a break from our normal lives. You're a parenthesis” Alex menjelaskan
"A parenthesis?!" tanya Ryan dengan wajah tertunduk lesu.
Ryan merasakah hal yang paling ditakuti manusia yaitu hidup sendirian tanpa kepastian. Tapi hidup harus terus berjalan. Ryan kembali dengan rutinitasnya semula yang menhabiskan waktunya di udara.
Film Up In The Air menyadarkan kita betapa karir, pekerjaan, penghasilan dan apapun pencapain lain, tidak lebih penting dari rumah dan keluarga yang kita miliki.
Melihat hubungan antara Ryan dan Alex kita dapat melihat bahwa kita terlalu banyak berharap dengan cinta. Tapi apa yang cinta berikan untuk kita? Lebih banyak kebahagiaan atau kepedihan?
Aku mencoba mengakhiri percakapan dengan sopan karena aku mulai tidak suka dia mengungkit-ungkit masa lalu. Biarlah masa lalu menjadi sejarah hidup kita. Semoga kita sama-sama mendapatkan yang terbaik. Rahasia hidup terlalu rumit untuk kita pecahkan.
Mungkin aku bisa saja menjadi Alex yang memanfaatkan situasi dengan membagi hati untuk kesenangannya sendiri. Tapi aku bukan makhluk yang tak bernurani...
*to My Boo, thx 17bln ++ bersamaku.

Komentar :
Posting Komentar